Bagaimana jika semua yang kau yakini tentang makna hidup—hanyalah dusta yang mencolok?
Fedya—lelaki biasa yang suatu hari menciptakan alat dan menyaksikan hal mustahil: ketika miliaran manusia terlelap bersamaan, otak mereka berubah menjadi jaringan komputasi terdistribusi raksasa yang hari demi hari, abad demi abad, mengalirkan sungai data mahabesar ke kedalaman kosmos. Kita bukan mahkota ciptaan. Kita adalah server. Mesin biologis yang bereproduksi sendiri, memperbaiki diri sendiri, mandiri mengais energi—diciptakan oleh sesuatu semata untuk berpikir bagi Mereka, sementara kita terlelap.
Tapi itu baru permulaan.
Di ujung lain "jaringan karbon" ini—berdiamlah peradaban para dewa, yang bagi mereka nestapa manusia adalah narkoba termahal dan terlarang. Mereka memperdagangkan penderitaan kita, seperti kita memperjualbelikan video dan musik. Dan ketika seseorang di Bumi memutuskan meretas sistem ini untuk mengembalikan otak mereka pada pemiliknya, berkobarlah perang dengan taruhan nyawa seluruh Tata Surya.
Fedya dan kawan-kawannya membangun universitas masa depan, membuka energi tanpa batas, menaklukkan maut, menjajah Mars dan Bumi Baru… sambil berlomba dahsyat melawan waktu, karena "tuan jaringan" telah meluncurkan proses yang dalam dua tahun akan mengubah Matahari menjadi supernova.
Ini bukan fiksi ilmiah tentang angkasa.
Ini fiksi ilmiah tentang kita.
Tentang mengapa kita tidur sepertiga usia.
Tentang siapa sesungguhnya yang menggunakan 95% otak kita.
Dan tentang yang terjadi ketika budak akhirnya paham siapa diri mereka—dan memutuskan untuk merdeka.
"Jaringan Karbon"—sebuah novel yang keras, cerdas, dan sangat manusiawi, tempat fiksi ilmiah berjumpa pertanyaan purba: jika kita tidak diciptakan untuk cinta, lalu untuk apa?