Dari disket yang disimpan hati-hati di saku, hingga smartphone yang tidak pernah lepas dari tangan - ruang redaksi Indonesia telah melewati perjalanan teknologi yang panjang, dramatis, dan kadang menggelikan.
Menjemput Berita, Menembus Waktu, mengajak pembaca menyelami pengalaman nyata seorang wartawan yang melewati setiap era: WordStar dan diamond keys, modem dial-up yang bernyanyi, pager dan wartel, Nokia yang tahan banting, PIN BlackBerry sebagai identitas baru, hingga grup WhatsApp redaksi yang buka dua puluh empat jam tanpa hari libur.
Ditulis dengan gaya memoar yang jenaka dan reflektif, buku ini bukan sekadar nostalgia. Ia adalah pengingat bahwa di tengah semua perubahan, satu hal tidak pernah berubah: tanggung jawab wartawan kepada publik.
Untuk siapa pun yang pernah duduk di ruang redaksi - dengan kopi dingin, mata lelah, dan deadline yang terasa seperti napas di tengkuk.